IMG20141230104805Karya Alfiana Firdausy

Sebuah komitmen tidak selalu berakhir bahagia, bahkan saat komitmen berjalan dengan setia takkan bisa menggantikan takdir. Inilah cerita terbaik yang akan buruk bila dilanjutkan. Mungkin aku bisa bahagia seutuhnya dalam waktu yang mungkin tak terhitung.

Semua telah berakhir, hanya lamunan sendu yang kini meniti asa untuk merajuk rindu. Komitmen yang ku jalani selama dua tahun telah usai. Mungkin saat ini kamu telah bahagia bersama seorang kekasih yang setara dengan inginmu untuk merajuk kisah sebuah pelaminan.

Aku kesal, aku benci, tapi untuk apa? Itu hanya membuat pikiran ini terasa begitu penat dan menjadi beban bag. Kamu pun takkan kembali, bahkan untuk memahamiku itu sangat mustahil. Langkahmu sudah tak lagi untuk ku.

Kisah ini terlalu cepat kamu ganti, tetapi ini lebih baik dari pada terlalu lama semuanya akan terasa semakin beku dan gersang. Aku pun tak mengerti alur cerita yang kamu rancang dengan pernak-pernik bercak lumpur. Perubahanmu terlalu dratis untuk aku angankan. Seakan tubuhmu hanya dilumuri oleh logika-logika yang tak berkonkret.

Lihat, aku saja yang berada di depanmu sedari tadi tetapi kamu malah asik berbincang dengan kawanmu, entah apa yang sedang kamu bincangkan. Jika boleh aku rasionalkan sikapmu itu terlalu palsu karena dengan sekejap saja kamu telah mampu memalingkan cahaya yang sebelumnya menerangi lembah-lembah jurangmu.

“Perjuanganmu masih panjang, kesempatanmu untuk meraih mimpi juga masih luas. Kamu gak perlu khawatir dengan kekasih yang akan meminangmu nanti. Kamu cantik, kamu baik, dan kamu setia. Sudahlah, gak perlu kamu sesali. Keputusan orang tuamu adalah yang terbaik untuk kamu.”

“Tapi kenapa kamu gak bilang ini sejak awal waktu kamu pilih aku buat ngebahagiain kamu, kalau akhirnya kamu pergi dengan alasan gak bisa tunggu aku terlalu lama sampai aku lulus nanti.”

“Sudah cukup, cobalah kamu tenangin pikiran kamu. pikir pake logika. Jangan terus-terusan pakai perasaanmu. Sekarang kamu fokus sama tujuan kamu dan ingat ayah ibu yang membiayai kamu kuliah.”

Kita memang tidak ditakdirkan bersama, aku pun sebagai wanita juga gak akan pernah lelah dan gak akan pernah balas semua kepahitan cerita yang terjalin begitu indah. Kita memang pernah bahagia bersama, pernah berjuang bersama hanya saja Tuhan yang tidak mengizinkan rancangan harapan-harapan semu ini berjalan dengan waktu lama.

Tiga minggu sudah, aku benar-benar gak sempat berpikir jika secepat itu kamu mengambil keputusan bahwa kamu telah memilih hati dan kamu pun juga memastikan kalau tiga bulan lagi kamu akan melangsungkan pernikahan. “Adik, Insya Allah bulan ketiga kakak nikah. Doakan kakak ya, semoga semuanya lancar” kamu mengatakan ini dalam sebuah pesan. Mungkin mengatakan ini sangat mudah buat kamu, tapi tidak dengan aku yang membaca pesan itu. Seolah-olah pikiran sudah bercampur aduk antara amarah, kesal, dan penat. Di sela-selah pikiran kelamku ini aku sempat berpikir bahwa kamu telah mengenalnya sebelum kita berpisah. Susah dipikir secara logis dan mungkin itulah kenyataannya.

Kamu pun terdiam, saat aku mengatakan “Apa kakak sudah kenal sama dia sejak lama, atau bahkan saat hubungan kita belum berakhir.” Aku tahu, apa yang aku tanyakan dan apa yang aku nyatakan itu benar hanya saja kamu terlalu menjaga hatiku untuk tidak merasakan kepahitan kisah yang  ternoda.

Kini semua telah berjalan dua arah, apa yang kita pikirkan pun tak lagi sama bahkan tujuan dari komitmen awal kita. Kau dan aku telah dewasa, kau dan aku telah memahami, kau dan aku telah bahagia bersama jalan perawan muda yang belum pernah kita singgah. Kau dan aku yakin bahwa kemegahan hati pasti melekat tanpa harus kita memaksanya untuk hadir. Lengkungan bibir pada wajah juga tak akan berkhianat karena perlahan-lahan semua bercak-bercak noda akan luntur saat kita benar-benar tulus melepas gundah dengan tatapan dan langkah kebahagiaan.

Seminggu lagi, kamu tak lagi sendiri menata hidupmu yang mungkin kamu keluhkan selama tak ada kepastian jalur yang ditempuh. Diri ini mungkin juga sudah memulai menyelami hati seorang pria yang kini membangun tekadku tuk meraih sebuah keutuhan seutuhnya. Semua cerita tak akan selamanya seperti asap, perlahan-lahan pasti akan berubah menjadi udara sejuk pegunungan dengan diiringi kerekatan naluri dua insan.

Di stasiun kota pada waktu lalu, saat sesudah kamu mengerjakan proyek di luar kota. Kamu mengajakku untuk bertemu hanya bertatap pada menit-menit yang tak terhitung jam. Kamu mengatakan, “kapan sih, aku bisa seperti kamu. Kamu masih bisa tersenyum lepas dengan kesendirian kamu sekarang. Aku bahagia banget bisa lihat kamu seperti itu. Kita sama-sama saling mendoakan dan mendukung ya. Tetap semangat, gak boleh ngeluh, gak boleh sedih. Aku yakin kamu bisa jadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik. Semangat adik.”

Aku bisa seperti ini karena aku yakin pada diri aku sendiri bahwa aku bisa melewati jalan perawan ini. Tuhan pun yakin dan percaya jika aku bisa melewati semua tantangan dan hambatan yang mengusik di setiap langkah yang tersipu malu pada tatap seorang kawan.