Karya Djoko Saryono
PROSESI: duduk di atas gemerlap dampar kencana, berbusana kebesaran keluarga istana, menghadap arena, dan dipayungi para abdi setia: Mas Sutikna menegaskan kuasa, juga berusaha mematutkan wibawa, di hadapan mantan istri tercinta, mungkin biar rakyat patuh dan percaya. “saksikanlah, ya saksikan, wahai kawula Kastusura, hukuman bagi penista marwah istana, ongkos yang harus dibayar para perusak martabat raja. Ayu, kamu bukan cuma memamerkan khianat asmara, tapi telah menampik sabda pandita, dan merusak aura istana. maka kematian mesti kau terima”, suara tegas Mas Sutikna. lalu dia menyapu pandang semua penjuru arena, seraya menikamkan sorot mata. lantas, “mulai!”, perintah jelas menggema. “bedebah, biadab kau! kenapa tanganku kau haruskan mengakhiri kehidupan anakku!”, batin Puger sembari terpaksa menuju tempat Ayu di muka Mas Sutikna. dalam gentar tak terkira, dia lantas mengalungkan jarik lurik di leher ananda. dan tatkala Puger kehilangan daya mengelola dirinya, lalu pelan-pelan lurik yang melilit leher Ayu mulai melaksanakan tugas mulia! “Sukra, Sukra, tunggulah aku, hai lelaki kucinta! kita bersama senantiasa, tak terhalang pelik tata dunia!”, serasa gema menggerayangi batin warga. dan seisi Kartasura tenggelam di kelam kesumat istana.