Oleh Djoko Saryono
PENGHADAPAN: Kartasura yang resah serasa diterjang lindu: saat kuda henti derap sesudah sekian waktu. aku yang terikat juga tak tahu tempat: dan mata gelap tertutup rapat. lantas diseret pada lapang beramis laknat: dan lamat-lamat kudengar bisik kesemat. “bawa kesini dan buka kacu bebat di matanya!” masih dalam nanar lantas kutatap lelaki putra mahkota. “kau tahu siapa aku?!”, satu tanya dihunus padaku. dan kupilih membisu. “kau tahu kenapa dihadapkan padaku?”, suara meninggi seperti ke puncak meru. dan aku tetap memilih gagu. seketika meledak serapah dan umpat paling batu. “kau telah pamerkan kerupawanmu buat menjatuhkanku! kau sudah meledek aku dengan kanuraganmu! dan kau merebut perempuan-perempuan kekasihku! bangsat kamu!! dan aku tetap membisu. “masukkan semut-semut merah di matanya!”, ledak putra mahkota. seketika kurasa perih tak terkata dan dunia gelap gulita. “remuk juga tulang belulang dia!” dan segera kurasa berlaksa tendang dan pukul menghujani raga!