IMG-20160610-WA0001

Oleh Djoko Saryono

NASIHAT RAMADAN 4: Senja yang melangkah menjemput buka, dan temaram yang tenang menuju batas puasa, membawa diri ragaku, juga tubuh sosialku, mencapai relung jiwa. “Wahai Djoko, sehari sudah berlalu, tubuh sosialmu menjumpai sejati puasa ataukah cuma puasa palsu?”, jiwaku mengangsur tanya. Diriku merasa kelu karena sehari banyak bersua cuma ajakan menyehatkan raga: lewat aneka obat dan suplemen yang bisa membikin tubuh terjaga. “Wahai Djoko, terbit fajar sampai lindap surya berlalu, diri ragamu telah bertemu inti puasa atau imitasi belaka?”, cecar jiwaku segera. Diriku serasa gagu lantaran sepanjang waktu tergoda aksara dan gambar minuman dan penganan belaka: berkelebatan tanpa henti mengepung diri. “Djoko, kau berlaku melecehkan puasa: bahkan memuntir makna sejati puasa!”, jiwa menghardik tiba-tiba: dan diriku hanya terlonjak terkesima. “Bukankah puasa itu obat istimewa yang menyehatkan hidup manusia: kenapa kau malah percaya pada obat dan suplemen segala! Di kepalamu mungkinkah puasa malah menyiksa raga!” Diriku hanya terpana: sulit menemukan kata. “Bukankah puasa itu perjamuan ruhani dari ilahi setahun sekali agar sesama manusia saling bersua kembali: kenapa kau justru memoles-moles raga pribadi pakai nasihat-nasihat tak bersumbu masyarakat!” Diriku semakin terbata-bata: terasa sulit mendapat makna.