Oleh Djoko Saryono
NASIHAT RAMADAN 3: Wahai jiwa, ya jiwaku, bagaimana makrifat puasa, begitu diriku bertanya saat bersua. Seketika serasa gurun terbentang di layar citra, dengan kuda-kuda liar berlarian entah kemana. Kau lihat Djoko, jiwaku lembut berkata, kuda liar laksana syahwat dan nafsu kotor dan rendah manusia. Kau bisakah menghelanya sebegitu perkasa, dan lembut cinta? Lantas menambatkannya di hutan bertelaga? Lalu memandikannya berbilas wangi surga? Hanya penunggang kuda sejati sanggup melakukannya karena ia bermodal cahaya cinta. Kesanggupan mencahayai segala yang kotor di ceruk diri manusia menjadi makrifat puasa. Maka diriku pun bertanya-tanya. Kemampuan melangitkan segala yang rendah di palung diri insan menjelma makrifat puasa. Maka diriku pun berpana. Orang sejati berpuasa, adalah penunggang yang mengendali kuda liar melesat ke jalan cahaya, hingga tampak pijar-pijar belaka di mata manusia. Diriku terhenyak, hilang kata: menerka-nerka.
