SAPARDI DJOKO DAMONO DAN UMAR JUNUS: MAESTRO SASTRA YANG JADI DOSEN DI JSI FS UM
Siapa tak kenal dengan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, M.A. dan Prof. Dr. Umar Junus? Minimal kalangan sastra, seni, dan budaya pada umumnya di kawasan negeri serumpun kita (Indonesia, Malaysia, dan Singapura) pasti mengenal mereka, bisa lewat karya, bisa juga lewat jumpa dengan mereka. Keduanya maestro sastra yang langka, memiliki segudang karya yang bermutu, mempunyai kemampuan kreatif yang tinggi dan panjang, tapi menempuh jalan berbeda di dunia sastra meski ada yang sama. Sapardi kondang sebagai penyair dan novelis selain sebagai pemikir sastra andal. Umar Junus sepenuhnya mengabdikan diri di dunia pemikiran sastra khususnya kritik sastra dan kajian sastra. Umar Junus seorang kritikus sastra dan pengkaji sastra yang ulung, jeli, dan visioner.
Sebagai penyair dan novelis, Sapardi amat kreatif, produktif, dan punya napas panjang. Sudah berbagai kitab puisi dan novel dikarangnya. Sebagai pemikir sastra dan kritikus sastra, Sapardi juga amat kreatif, produktif, dan visioner. Berpuluh buku dan beratus artikel dan makalah sudah ditulisnya. Demikian juga Umar Junus. Sebagai kritikus dan pengkaji sastra, dia juga sangat tajam, jeli, dan dalam analisisnya di samping sangat produktif, kreatif, dan visioner. Beratus artikel, makalah, dan buku bermutu sudah ditulis Umar Junus. Baik Sapardi dan Umar Junus bisa dibilang sebagai perintis dan promotor kajian sosiologi sastra dan stilistika sastra Indonesia dan daerah. Buku yang mereka tulis tentang kedua bidang itu sudah menjadi klasik dan kanon yang selalu dirujuk oleh penulis lain masa kini. Betapa tidak! Pada akhir tahun 1960-an, Umar Junus sudah mengenalkan pendekatan linguistik untuk kajian puisi dan awal 1970-an telah mengenalkan kajian sosiologi sastra. Begitu juga Sapardi, pada paruh pertama 1970-an sudah mengenalkan dan menulis buku sosiologi sastra. Buku Umar Junus berjudul Sosiologi Sastra: Persoalan Teori dan Metode dan buku Sapardi berjudul Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar sekarang sudah menjadi buku klasik dan kanon yang menjadi rujukan para penulis.
Selain dipersatukan oleh minat kajian sastra yang relatif sama (namun dengan cara berbeda), yaitu sosiologi sastra, Sapardi dan Umar Junus dipersatukan oleh awal karier yang sama-sama sebagai dosen. Baik Sapardi dan Umar Junus mengawali karier sebagai dosen di Jurusan Sastra Indonesia FS UM (tentu dulu namanya masih Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia). Sapardi memulai karier sebagai dosen di IKIP Malang Cabang Madiun, lalu diteruskan ke IKIP Malang. Umar Junus mengawali karier sebagai dosen di FKIP Universitas Airlangga (yang kemudian berubah menjadi IKIP Malang). Pada saat menjadi dosen JSI FS UM, Sapardi sudah dikenal sebagai penyair. Bila kita buka antologi puisi Duka-Mu Abadi dan Mata Pisau, kita akan menjumpai pelbagai puisi tentang jalan Jakarta dan Malang pada umumnya. Begitu juga pada saat menjadi dosen di JSI FS UM, Umar Junus sudah dikenal sebagai pemikir yang jeli, tajam, dan dalam analisisnya. Ini terlihat dari dua diktatnya yang kemudian hari dikembangkan menjadi buku legendaris, yaitu Sejarah Bahasa Indonesia dan Pendekatan Linguistik terhadap Sajak. Pada paruh pertama tahun 1970-an, Sapardi dan Umar Junus meninggalkan JSI FS UM, menempuh karier sebagai akademisi di tempat berbeda. Sapardi menghabiskan karier akademisi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sampai sekarang), dan Umar Junus menghabiskan kariernya di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia sampai akhir hayatnya. Mereka berdua maestro sastra yang pernah mengabdi di JSI FS UM.
