
Lepas Sepatu, tanda Tawadu’
Catatan Dina Nisrina, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia-Universitas Negeri Malang angkatan 2013/peserta PPL-KKN di Thailand Selatan (Duta Perguruan Tinggi Indonesia di Thailand Selatan)
Ada hal unik yang saya temui di sekolah tempat saya mengajar, yaitu di Wiengsuwanwittayakhom School di Narathiwat, Thailand. Kelas pertama yang saya ajar dulu adalah kelas yang termasuk kelas VIP. Tidak heran jika semua siswanya melepas sepatu saat akan masuk kelas. Saya kira, hal itu hanya dilakukan di kelas yang memakai AC seperti kelas ini saja. Agar tidak mengotori kelas, pikir saja. Saya pun ikut melepas sepatu saya saat mengajar. Yang terjadi, para siswa malah melihat ke arah kaki saya yang hanya mengenakan kaos kaki dan mereka menahan tawa. Saya tidak berpikiran aneh-aneh saat itu. Mungkin mereka tertawa karena kaki saya panjang. Maklum, saya berpawakan tinggi-panjang.
Tetapi, setelah saya keluar kelas, saya lihat di depan semua kelas, berjajar rapi sepatu para siswa. Tidak hanya kelas yang VIP saja, namun juga kelas-kelas biasa. Tidak berhenti di situ. Saya kemudian masuk ke ruang guru. Saya heran, kenapa semua siswa yang akan masuk ke ruang guru pun wajib melepas sepatu mereka. Padahal, lantai ruang guru tidak dilapisi karpet.
Saya masih menyimpan rasa penasaran saya. Saya lalu mengajar di kelas lain yang bukan kelas VIP dan saya melepas sepatu saya juga. Saya pikir, mungkin itu memang budaya di sini, melepas sepatu setiap memasuki ruangan. Namun, seorang murid lalu berkata pada saya “Cikgu, tak payoh lepas kasuk, cikgu” yang artinya, “Bu Guru, tidak usah melepas sepatu ibu,”. Murid itu berkata bahwa cukup murid saja yang melepas sepatu. Guru tidak usah.
Selepas mengajar kelas itu, saya masih bertanya-tanya. Mengapa guru tidak melepas sepatu sama seperti murid. Lalu saya bertanya pada salah satu guru. Kata beliau, begitulah aturan dari Kerajaan Thailand. Sekolah ini merupakan sekolah kerajaan atau sekolah yang mengikuti norma-norma kerajaan. Salah satu norma tersebut adalah siswa wajib melepas sepatu bila masuk ke dalam ruangan apa pun kecuali kamar mandi, sedangkan guru tidak.
Melepas sepatu adalah tanda tawadu’, bahwa menjadi murid tidak boleh sombong sebab belum mempunyai ilmu yang cukup. Hanya guru yang boleh memakai sepatu di dalam kelas menjadi simbol bahwa murid harus senantiasa hormat terhadap guru. Selain itu, melepas sepatu juga meredam kesenjangan sosial antarsiswa yang biasanya sibuk memamerkan merk sepatu. Banyak makna dari sekadar melepas sepatu.
Tidak cukup sampai di situ, para siswa pun wajib menata sepatu berjajar rapi di tepi kelas. Sengaja tidak disiapkan rak sepatu, agar melatih siswa menata sepatu setiap terlihat berantakan. Ada guru khusus yang selalu berkeliling melihat kerapian para siswa. Bila sepatu terlihat tidak rapi, tanpa segan, guru tersebut langsung menendang sepatu keluar barisan dan dijatuhkan ke luar tembok kelas. Hal tersebut melatih siswa agar senantiasa menjaga kerapian dan keindahan. Sudah menata sepatu pagi ini?
Dina Nisrina, seorang pegiat bahasa Indonesia yang suka berkarya dan menulis. Lebih dekat dengan saya melalui Facebook: Dina Nisrina, Blog: nisrinabile.blogspot.com, Instagram: @nisrinabile.
Saat ini, saya adalah mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Negeri Malang angkatan 2013. Pernah menjadi juara 1 Duta Kampus Universitas Negeri Malang 2014 dan aktif di paduan suara kampus, yaitu Paduan Suara Mahasiswa Swara Satata Cakti, pernah juga berprofesi sebagai pelatih vokal SD Islam Sabilillah Malang selama hampir dua tahun. Beberapa prestasi yang pernah diraih di bidang sastra antara lain Penulis Cerita Terbaik Festival Film Pendek Pelajar se-Kota Malang 2011, Juara II Lomba Drama Festival Tari dan Musik SMA Negeri 4 Malang 2011, Juara II Duta Bahasa Jawa Timur 2015, dan lain-lain. Sedangkan di bidang musik, prestasi yang pernah diraih adalah Gold Diploma Mixed Adult Choir Art Song Program Lomba Paduan Suara UNAIR 2014, Gold Diploma Mixed Adult Choir Classical Program Lomba Paduan Suara UNAIR 2014, Juara 1 Menyanyi Seriosa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang 2015, dan Concert Master Pendidikan dan Pelatihan Unit Kegiatan Paduan Suara Mahasiswa SSC 2013-2014. Prestasi lain misalnya pernah mengikuti program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing sebagai peer tutor Critical Language Scholarship America. Saat ini sedang menempuh program PPL dan KKN di Narathiwat, Thailand Selatan hingga November 2016.
