Oleh Djoko Saryono
NASIHAT RAMADAN 22:
Jiwaku memanjati tebing-tebing subuh: tatkala malam makin merapuh: dan fajar datang membawa gigil memiuh: lalu tubuhku diserang gamang ambil basuh. “Ayo Djoko, ayo, bersijingkatlah: ambil air teluh. Beranjaklah: lintasi saat keruh. Kau bakal tiba di padang-padang cahaya: di situ batas pedih dan suka sirna: di situ sesama menyempurna di luar masa”. Tubuhku gagu terkesima: memburu riuh rendah dunia biar kencana senantiasa: ternyata muspro tan guna belaka: cahaya cuma perlu cahaya, bukan gelimang dunia.
KAU: menyentuh pundakmu di lembab malam luar pintu: seperti tengah menapaki jejak purba rindu: membawaku di lapang bentang cinta: di situ kau senandung gandrung asmara. ah kau yang makin jauh menelusuri usia: suka mengajakku pulang di jantung rahasia kita: ketika genggam bunga selalu mengabarkan wangi asmara: dan selainnya menyirna!
NASIHAT RAMADAN 23:
Di gentar suasana gua batu-batu tua: kalam mulia tiba dalam rupa suara. “bacalah, ya ya bacalah segera!”, lalu dia tampak terkesima. hendak berbuat apa: waktu mencipta jeda. “bacalah, bacalah atas nama si mahacinta!”, lantas dia menuruti suara. “ohoi djoko, kau kenapa justru cuma sibuk mengeja huruf-huruf!”, tegur jiwaku, “dan melafazkan amat merdu serupa lagu meneluh kalbu!” cuma terpaku diriku: tegun menyergap membikin kelu. “ohoi djoko, kau kenapa justru berpikir semata!”, cecar jiwaku, “dan sibuk membaca belaka seperti kanak-kanak mengenal kata!” hanya terdiam diriku: serasa saraf-saraf wicara kaku. “ohoi djoko, kalam mulia memang pemikiran, tak cuma hafalan. ohoi djoko, kalam mulia laku perbuatan, tak hanya pemikiran” diriku menggigil dalam keterpakuan.
NASIHAT RAMADAN 24:
Memang dipastikan titah: niscaya turun malam berkah. para malaikat hadir bawa rahmah: bagi insan-insan tekun ibadah. “tapi, tapi kapankah?”, aku cekat menyergah: berhambur perangah. keheningan merekah: diri memeram gelisah. “tapi, tapi malam acap menyuguhkan terka: tanda demikian samar dicandra pemuka: ah keniscayaan belumlah tiba!”, diriku tampak pasrah semata. segera jiwaku menamparkan tanya: “keberimanan seperti apa kau piara? jangan-jangan kurang tepat guna!”. seketika kubentangkan segala laku sepanjang hari di dunia. “ahaaa djoko, mana bisa: kau jumpa malam istimewa sarat berkah semata! iman pada benda semata kau piara! iman pada hiburan belaka kau ikuti senantiasa! mana iman pada dzat abadi yang baka!?”. malam menawarkan pelbagai terka: diriku lamur menduga-duga.
