Oleh Djoko Saryono
NASIHAT RAMADAN 10: “Coba kau timbang sedalam samudra!”, jiwaku mulai berkata, pada pagi berurap dingin udara, “Elok mana: mengarungi puasa dengan canda atau membaca peta: canda mendangkalkan makna atau mencerna peta jalan cahaya?”. “Bukankah canda juga tanda insan cendekia: malah tawa bertabur pula di ceruk-ceruk kearifan beragama!”, hujah diriku seketika. “Mencerna peta lebih utama kendati tawa tak diharamkan agama: tapi canda tak boleh mengaramkan pesan utama: namun puasa harus sanggup menjadikan manusia cahaya!”, hujah jiwaku sangatlah tegasnya. Lalu tubuh sosialku bergerak: mematikan teve yang sepanjang waktu amat nyinyir berteriak. Lantas tubuh sosialku ingin mengasingkan hape: sepanjang waktu terus mengirimkan canda-canda sepele.
