Oleh Djoko Saryono
NASIHAT RAMADAN 1: Kumasuki diri dengan suka cita, seketika ia menodongkan tanya. Djoko, masihkah kau tersihir acara-acara teve saban ramadan tiba: gegap gempita dipenuhi artis kejora? Cuma kelu yang ada karena teriakan teve tak berhenti sekejab juga. Djoko, masihkah hatimu tertenung tawaran ketampanan lahiri yang dibungkus bahasa sabda? Hanya diam berkelana di relung jiwa. Djoko, masihkah dirimu terseret keramaian dan keriuhan acara berlabel kebenaran titah sang mahabaka? Mulutku menawarkan sunyi berkala-kala. Djoko, masihkah pikir dan tanganmu selalu terhubung jaringan digital tak kasat mata demi sesuatu fana, bahkan keruh berita? Jiwaku sulit mencari kata paling sedikit dusta: menerawang menapati jalur-jalur cahaya yang sudah lama dibiarkan begitu saja. Djoko, tahukah kau, ramadanmu kini menjelma sekadar pesta: peribadatanmu sekadar perayaan tak menjulur ke sidratul muntaha: segala doa merdumu sekadar nyanyian dunia. Hah? Aku hanya ternganga.
