Naskah Lakon
JOKI SUPERMAN
Amalia Safitri Hidayati
DRAMA PERSONAE
Pak Parman : Seorang tukang ojek, ayah Dio
Dio : Seorang laki-laki, SMP Kelas 2
Parni : Istri Parman
Sugeng : Tukang ojek 1, sangat mencintai Sarmi, bujangan
Yadi : Tukang ojek 2
Paidi : Tukang ojek 3
Yanto : Joki balap liar, saingan Parman
MC : MC Balap liar
Sarmi : Seorang perempuan, usia 30 tahunan, mengagumi Parman sejak muda
JOKI SUPERMAN
Panggung disetting seperti ruang tamu di sebuah rumah yang sederhana. Ada kursi dan meja tamu. Di sebelah kiri panggung ada motor yang sedang di parkir. Di kursi ruang tamu, duduklah Parman malas-malasan sambil menghisap rokok, sesekali membuang puntungnya ke asbak. Sesekali matanya terpejam karena masih mengantuk ditambah dengan alunan lagu campursari dari radio tuanya. Cahaya lampu menyorot ke Parman
BABAK 1
DIO
Pak, bapak, dio mau berangkat sekolah dulu, Pak!
(Parman masih terpejam dan tidak menyahut)
DIO
(Dengan intonasi lebih keras, sambil mematikan radio Parman)
Bapak, Dio mau berangkat sekolah!
PARMAN
(Parman yang sedang duduk malas menghisap puntung rokoknya dalam-dalam, kemudian matanya terbangun)
Hmm iya, hati-hati Le! Belajar yang rajin, pulang sekolah jangan keluyuran!
DIO
Iya, Pak. Ngomong-ngomong Dio nanti sekolah sampai sore, Pak.
PARMAN
Wah, bagus itu Le!biar kamu gak bisa keluyuran lagi
DIO
Wah, bapak gak peka. Jadi gini Bapak, di jaman yang serba maju ini. Semua barang-barang mahal, Pak. Kemarin nih, Dio beli cilok di depan sekolah, yang dulunya dua ribu dapat 10 pentol, sekarang cuma dapet 5. Belum lagi ya, Pak. Yang dulunya beli es teh cuma 2000, sekarang jadi Rp 2.500. Bapak tau sendiri kan kalau uang saku Dio… hmm gak seberapa!
PARMAN
ya sudah, kalau gitu kamu jangan jajan cilok sama es teh! Beres kan! Minta bekal ibumu saja, lebih sehat.
ADEGAN 1
Parni masuk menggunakan daster yang bawahnya basah karena terkena bekas cucian. Ia meninggalkan cucian karena mendengar ribut-ribut di dalam rumah
PARNI
Lho-Lho Lho, opo iki ribut-ribut? Ayo, Le. Cepat berangkat sekolah! Sudah jam 7 kok masih santai aja. Jangan biasakan telat, mau jadi apa kamu?!
DIO
Lha gimana mau berangkat, Bu, kalau birokrasinya rumit.
PARNI
Biru kresi biru kresi apa to le. Jangan ngomong bahasa-bahasa yang gak genah!
DIO
Anu, Bu. Masak Dio gak diberi uang saku sama Bapak!
PARNI
Hoalah to mas-mas, lha terus uangmu yang kemarin kemana? Sama anak sendiri kok pelit minta ampun.
PARMAN
Bukannya gak mau beri uang saku, Bu. Apa ibu gak liat di tv-tv. Yang siaran investigasi itu. Ditemukan jajanan-jajanan berbahaya di lingkungan sekolah anak. Apa ibu gak takut?
PARNI
ya takut, Pak
PARMAN
ya sudah, simpel saja, bawa bekal dari rumah.
PARNI
Hoalah bapak… kok nemen! Di rumah sudah gak ada apa-apanya, Pak. Beras habis, garam habis, gula apalagi, lombok tinggal yang busuk!
PARMAN
lha kamunya makannya jangan banyak-banyak. Rp 50.000 itu seharusnya cukup seminggu. Diet dong!
PARNI
Bapak omongannya sudah kayak Bu Puan Maharani saja, rakyat miskin disuruh diet.
DIO
ya sudah kalau gitu Pak, Bu. Pagi-pagi kenyang lihat bapak ibu debat. Dio mau berangkat dulu. Anterin Dio, dong Pak. Uang Dio kan gak cukup buat naik angkot. Assalamualaikum!!
PARMAN
Hoalah Le, seumuran Bapak dulu itu sudah naik motor kemana-mana. Tuh bawa motor yang satunya. Biar kamu mandiri dan jadi anak pemberani.
(Sambil menunjuk motor tuanya yang terparkir di teras)
PARNI
Loh le, loh le.. ini ini ada uang lima ribu buat jajan dan naik angkot. Jangan gitu to, Pak. Dia masih SMP. Bahaya nanti kalo naik motor. Orang belum punya SIM lho (mengeluarkan uang dari balik sakunya, sambil mengejar Dio)
DIO
Simpan saja, Buk. Lagian jam segini angkot sudah tidak ada. Yaudahlah. Nanti kalau ada apa-apa kan berarti tanggung jawab Bapak. Assalamualaikum. (Dio langsung menaiki motornya sambil meng-gas kencang, tanpa melihat wajah ibunya yang kebingungan)
ADEGAN 2
(Hanya ada Parni dan Parman di ruang tamu)
PARNI
Kok mas masih duduk malas-malasan di situ? Udah siang cepat ganti baju, narik ojek. Gak malu apa sama ayam.
PARMAN
kenapa sih buk berisik banget dari tadi. Selalu begitu, kalau sudah tanggal tua.
PARNI
Hei, bukan karena tanggal tuanya ya, mas. Parni udah gak kuat lagi kalau mas seperti ini terus. Mas sadar dong, mas sudah punya anak. Mana tanggung jawabmu, Mas?
PARMAN
Hoalah, tanggung jawab apa lagi? Wong waktu kamu dulu hamil, saya juga sudah tanggung jawab!
PARNI
Kenapa Mas selalu mengungkit masa laluku? Begitu juga, Dio itu anak kandungmu. Setidaknya Parni kerja beneran sekarang mas. Meski cuma jadi buruh cuci cukup buat menghidupi keluarga sehari-hari. Nah, mas? Tukang ojek, tapi uangnya cuma buat balapan dan taruhan. Sudah kalah terus, bolak-balik ke rumah sakit pula.
PARMAN
Waduh sayang, kok jadi kamu yang mengungkit masa laluku? Kamu kan udah janji kalau mau menerimaku apa adanya. lha wong balapan itu sudah hobiku dari dulu lho. Gak bisa dihilangkan. Nanti kalau emas menang taruhan lagi, pasti uangnya buat kamu sayaaaang.
PARNI
Dasar gombal mukio! (Parni pergi, kembali menuntaskan cuciannya)
BABAK 2
Lampu padam, setting panggung berubah menjadi pangkalan ojek di kampung kecil. Ada sebuah kursi panjang, tiang bertuliskan pangkalan ojek, dan tiga buah motor berjejer di depannya. Kemudian lampu menyorot ke tukang ojek yang sedang bergurau sambil sesekali tertawa dan kadang pula menawarkan jasanya pada orang yang simpang siur di depannya
(Parman datang dengan mengendarai motor bututnya, memakai helm, dan jaket tebal, ia menghampiri teman-temannya sesama tukang ojek)
PARMAN
Spadaaaaaaaaa….!!!! (sambil tersenyum lebar, mengagetkan teman-temannya yang duduk di atas jok motor masing-masing)
SUGENG
Woalah to man-man, buat kaget aja! Kok siang banget man datengmu? Tadi dicari langgananmu lho..
PAIDI
Owalah mbakyu Sarmi iku lho man, dia itu jual mahal banget man, masak dianter kita-kita gak mau. “Maunya sama mas Parman” gitu, Man, katanya. Padahal kamu tau sendiri kan Man, kala aku tuh cinta mati sama mbakyu Sarmi. Kok dia lebih milih kamu Man. Padahal kamu udah punya istri. Mbokyo aku, masih bujangan tingting. Kamu jangan PHP, Man. Kalau gak suka, kasih ke aku aja! (Paidi berbicara setengah kesal dan marah)
YADI
Padahal kalu dilihat-lihat secara fisik dan finansial. Wajah kita gak kalah ganteng sama Parman, motor kita gak kalah butut… eh maksudku gak kalah bagus dari Parman.
PARMAN
Ya sudah to, kalau dia gak mau dianterin, biarkan jalan saja, mau naik angkot kek, naik becak, naik kapal, naik jet, bukan urusan saya! Ped, kalau kamu suka, segera lamar dia. Keburu dia tua. Aku gak PHP, Ped. Aku gak ada hubungan sama dia. Jangan nyebar fitnah!
SUGENG, PAIDI, YADI
Lho kok gitu, Man? Bukannya Sarmi itu mantanmu dulu? (Mereka menyahut bersamaan, sambil wajahnya melongo menghadap ke wajah Parman)
PARMAN
Mantan-mantan gundulmu itu?! Justru dia yang tergila-gila sama saya sejak saya masih muda. tapi saya gak mau, jadi saya menghamili Parni supaya dia Ilfeel. Tapi di lain sisi saya juga sangat cinta sama Parmi. Tapi gak direstui orang tua saya, gara-gara Parmi cuma seorang PSK yang ‘katanya’ orang-orang tidak punya masa depan.
PAIDI
Hoalah, Man. Kok kisah cintamu mengharukan ya, Man. Aku sampai meneteskan air mata. Kalau gak salah kisah cintamu sama kayak sinetron itu lho Man apa itu yaaa. Uttaran, yang tiap hari ditonton ibuk-ibuk di samping rumah.
YADI
Hoalah, lebay kamu, Di. Kayak ibu-ibu saja! tapi, lebih dari itu semua, kok bisa lho yaa. Mbakyu Sarmi yang cantik aduhai semlohai itu cinta mati sama kamu, bahkan samapai kamu punya anak.
PARMAN
(Matanya menerawang ke langit, seperti memikirkan sesuatu, ia lalu menghisap dalam-dalam rokonya, lalu menghembuskan asapnya perlahan)
Jadi gini, ceritanya……
(Parman mengeluarkan suara dengan sangat pelan, ketiga temannya mendengarkan dengan seksama)
BABAK 3
Panggung tiba-tiba gelap, panggung di setting menjadi arena balap liar, kerumunan orang berada di sisi kanan dan kiri panggung, sambil berteriak-teriak mendukung jagonya masing-masing, ada yang taruhan, ada yang hanya menonton saja. Dua motor berada di tengah panggung, menunggu aba-aba. Dua orang yang mengendarai motor itu adalah Parman dan Yanto
MC
Pengumuman-pengumuman, balapan akan segera dimulai. Kali ini joki balapan kita adalah Parman dan Yanto. Parman yang dijuluki sebagai Joki Superman ini hampir tidak pernah gagal. Ia selalu memenangkan pertandingan dengan gayanya yang lihai seperti superman di film-film ketika sedang mengendarai motor. Apakah kali ini Yanto bisa mengalahkan seorang Superman? Kita lihat saja, nanti.
Kali ini yang akan bertaruh adalah Bapak Rudi dan Bapak Mulyono, yang sama-sama pengusaha kaya dari Kota Kediri. Yang akan menang akan mendapatkan uang sebesar Rp 500.000 dan seorang gadis cantik, bernama Parni. Apabila bendera sudah ke atas, maka balapan dimulai. Jika ada yang memulai sebelum itu, maka akan didiskualifikasi, dan pemenang akan jatuh di pihak lawan.
Seorang gadis berada di samping peserta, ia memberikan aba-aba melalui benderanya, setelah bendera diangkat ke atas, joki sudah mulai mengendarai motornya di sambut teriakan dari kerumunan orang-orang yang menyaksikan. Joki mengendarai motor keluar dari panggung, sambil menunggu pemenang, kerumunan orang tampak panik menunggu siapa joki yang akan sampai duluan. Di lain sisi, seorang gadis bernama Parmi, tampak gusar, ia berharap Parman lah yang akan sampai duluan, karena ia sudah lama kagum dengan kelihaian Parman mengendarai motor. Di lain sisi, seorang gadis bernama Sarmi, terus berdoa agar Parman tidak menang, karena ia sangat tergila-gila pada Parman dan tidak rela apabila Parman harus mendapatkan Parni
(Lantunan musik mendebarkan dan membuat tegang, menanti joki yang akan sampai duluan)
ADEGAN 3
MC
Waow, waow, waow, tidak disangka bung, ternyata Yanto dapat mengalahkan Parman yang selama ini tidak pernah terkalahkan!!!!! Selamat kepada Yanto, ia berhak mendapatkan uang taruhan dan seorang gadis bernama Parni…….!
Parni, Parman, dan seluruh pendukung Parman tampak kecewa. Sepanjang sejarah dalam hidupnya ia dikalahkan oleh Yanto, sedangkan Sarmi terlihat puas. Melihat pujaannya yang tidak jadi mendapatkan Parni
BABAK 4
Lampu mati, setting panggung berubah menjadi pangkalan ojek, seperti pada babak tiga
SUGENG
Nah, terus.. apa yang terjadi sama Yanto dan Parni, Man? (Sugeng bertanya dengan penuh antusias)
PARMAN
Ya.. mereka gak jadi hidup bersama, wong aku sama Parni setelah kejadian itu kami janjian di suatu tempat. Kami berupaya untuk tetap menikah, karena memang saling mencintai. Ya itu.. terus kita sepakat buat anak, agar ibuku menyetujui dan Yanto illfeel sama Parni karena telah mengandung anakku
YADI
Wah, gila kamu, Man. Apa orang tuamu gak murka?
PARMAN
Ya, murkaaa, makanya aku pindah ke kampung sini, biar orangtuaku gak malu sama anaknya yang bejat ini
(Tiba-tiba Sarmi masuk, sambil membawa barang belanjaan yang berat)
SARMI
Eeeeeeh…. Alhamdulillah ada mas Parman. Ayo mas, anterin Sarmi pulang ke rumah.
PARMAN
Ogah, wong rumahmu tinggal jalan dikit sampai kok. Lagian, aku sudah janji sama istriku! Gak bakal mbonceng kamu lagi. Aku sangat mencintai istriku. Aku gak akan membuatnya cemburu. Ngerti kamu? Kalau kamu mau dibonceng. Minta tolong Paidi aja. Dia itu lho yang udah cinta mati sama kamu! (Sambil menoleh ke arah Paidi)
SARMI
Aaaaah, mas Parman jahat! Yaudah, Sarmi jalan kaki! Sarmi mandiri. Sarmi gak suka sama Mas Paidi. Sarmi sukanya Mas Parman. Belasan tahun Sarmi menolak pinangan pemuda-pemuda, cuma buat apa? Buat Mas Parman saja! Sarmi tahu kok, kalau Mas Parman menikahi Parni karena rasa kasihan aja. Karena Parni udah dihamili sama Yanto. Emag dasar perempuan jalang! (Musik keras dan mendebarkan)
PARMAN
Hei Sarmi! Jaga mulut kamu, ya! Akulah orang yang menghamili Parni. Jangan kamu ganggu keluarga saya lagi kalau kamu masih mau hidup (Parman marah sambil mengacungkan tanganya ke muka Sarmi)
PAIDI
Jaga mulutmu, Man! Kamu boleh menolak Sarmi tapi jangan sekali-kali membentak dan mengancamnya! Kalau kamu masih mengancamnya, jangan harap kamu masih bisa bertemu aku lagi! (Paidi marah dan membawa Sarmi yang menangis sesenggukan pergi)
ADEGAN 4
Panggung masih bersetting pangkalan ojek. Tapi hanya ada Sugeng dan Parman.
SUGENG
Eh, Man. Ada masalah apa antara kamu sama Paidi? Kita ini teman lho Man sejak dulu. Jangan bertengkar gara-gara perempuan.
PARMAN
Entahlah Geng. Aku kemarin emosi. Kita bahas masalah lain aja, Geng. Aku budrek.
SUGENG
Okelah, Man. Ngomong-ngomong gimana sih kamu bisa jadi joki superman? Ajarin aku dong, Man. Aku juga pengen jadi tenar kayak kamu.
PARMAN
Untuk menjadi joki itu harus punya otak yang encer, mental yang bagus, harus kuat dan yang penting harus fokus. Gak boleh ugal-ugalan, itu yang utama!
SUGENG
Wiih, tapi bukannya kamu sekarang malah sering kalah, Man?
PARMAN
Lhaiyaa, kalau menang ‘kan selalu dapat gadis cantik. Meskipun aku punya kesempatan untuk menang, tapi aku gak mau. Itu akan menyakiti Parni. Jadi ya menuju garis finish aku memperlambat kecepatanku. Tujuanku jadi joki kan cuma menyalutkan hobi saja toh.
SUGENG
Tapi kalau uangmu terkuras habis gimana? Kalau dilarang istri tuh didengering. Kadang-kadang insting perempuan itu bener lo, Man.
PARMAN
Ya belum mesti, wong ya hidup mati dan rezeki udah ada yang ngatur kok.
SUGENG
Jadi, kamu mau main lagi malam ini?
PARMAN
Ya jelas toh, pertanyaanmu kok ya lucu, wong itu hobiku. Sudah ah, aku mau narik ke pangkalan sana aja, ya. Takut ketemu si Sarmi lagi. (Parman pergi, meninggalkan temannya yang masih melongo)
BABAK 4
Panggung gelap setting di ruang tamu rumah Parman, seperti pada babak 1
PARMAN
Assalamualaikum, Buk.. suami tersayang sudah pulang
(Parman langsung memasuki ruang tamu, Parman melihat istrinya duduk di ruang tamu, mengenakan daster, sambil menangis tersedu-sedu)
PARMAN
Lho, ada apa to buk? Kok nangis gitu? Ada masalah apa?
(Parman menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya)
PARNI
Anuu, pak!!! Dio, pak!!! Dio masuk ke rumah sakit, dia kecelakaan ayo kita ke rumah sakit sekarang, Pak. Motornya remuk, Pak, Dio gak sadarkan diri. Coba kalau Bapak mau mengantarkan Dio ke sekolah, pasti gak akan terjadi seperti ini.
(Parni menjelaskan sambil sesenggukan)
PARMAN
Apa? Motor kesayanganku? Dio kecelakaan?
PARNI
Haduh bapak.. tega-teganya itu lo masih mikirin motornya. Wes ayo kita bergegas ke rumah sakit!
BABAK 5
Setting panggung berubah di kamar rumah sakit. Dio tak sadarkan sendiri di ranjang. Parni terus menangis. Di sebelah panggung ada motor Parman yang telah remuk. Motor yang telah membawa Parman pada masa kejayaan, kita telah mengantar anaknya ke rumah sakit. Keadaan sunyi, hanya terdengar bunyi alat pendeteksi jantung dan sesenggukan tangis Parni
PARMAN
Parni, maafkan aku. Tidak bisa membuatmu bahagia selama hidup denganku. Aku berjanji akan membuang jauh-jauh kenangan menjadi joki, kenangan masa lalu, dan motor yang telah membawa Dio seperti ini. Aku akan benar-benar berhenti. Aku akan menjadi ayah yang baik, yang menafkahi keluarga dan tidak egois seperti ini. Maafkan aku, Parni
Parman menangis di pangkuan Parni, terdengar alunan musik sedih yang menyayat hati, mereka berdua berpelukan sambil menangis, meratapi masa lalu yang suram dan anaknya yang sedang sekarat
TAMAT
Amalia Safitri Hidayati, akrab dipanggil sebgai Amal. Bertempat tinggal di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Lahir di Kediri 13 Februari 1996. Riwayat pendidikannya SDN Banaran 1 (tahun 2002-2008), MTsN Kediri II (tahun 2008-2011), MAN Kediri 3 (tahun 2011-2014). Saat ini tengah menjadi mahasiswa aktif di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Email [email protected]
